Minggu, 02 September 2012

Neonatus Makalah


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
                Neonatus adalah masa kehidupan pertama diluar rahim sampai dengan  usia 28 hari dimana terjadi perubahan yang sangat besar  dari kehidupan di dalam rahim . Pada saat ini terjadi pematangan hampir pada semua sistem.
Dalam 1 bulan setelah fertilisasi ovum, karakteristik umum dari semua organ-organ yang berbeda dari fetus telah mulai berkembang dan selama 2 sampai bulan berikutnya sebagian besar bagian-baguan dai organ yang berbeda telah selesai dibentuk lebih dari 4 bulan, organ-organ pada fetus khususnya sama 

dengan yang terdapat pada neonatus. Akan tetapi, perkembangan selular dari sebagian organ biasanya jauh dari sempurna, dan masih membutuhkan waktu 5 bulan kehamilan untuk menyempurnakan perkembangan tersebut. Bahkan pada saat lahir, struktur – struktur tertentu, terutama sistem saraf, ginjal, dan hati, masih kurang berkembang dengan baik

                Pematangan janin dan kelangsungan hidup neonatus diatur oleh berbagai jenis hormon. Tujuan dari pengaturan hormon ini adalah agar seorang bayi dapat bertahan hidup baik di dalam rahim maupun di luar rahim. Salah satu hormon yang berperan adalah hormon-hormon yang dihasilkan dari kelenjar endokrin.
                Kelenjar –kelenjar endokrin pada intra uterin belum bisa berfungsia secara maksimal karena pembentukan belum sempurna dan masih mendapatkan bantuan dari plasenta dan kelenjar endokrin ibunya.
                                    Janin dalam kandungan telah mengadakan gerakan-gerakan pernapasan, yang dipantau dengan ultrasonografi, akan tetapi likuonamnii tidak sampai masuk ke dalam alveoli paru-paru. Pusat pernapasan ini dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen dan karbondioksida di dalam tubuh janin itu. Apabila saturitas oksigen meningkat hingga melebihi 50% maka terjadi apnoe, tidak tergantung pada konsentrasi karbondioksida. Bila saturasi oksigen menurun, maka pusat pernapasan menjadi sensitif terhadap rangsangan karbondioksida. Pusat itu menjadi lebih sensitif bila kadar oksigen turun dan saturasi oksigen mencapai 25%. Keadaan ini dipengaruhi oleh sirkulasi utero-plasenter (pengaliran darah antara uterus dan plasenta).

B.       Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan beberapa hal  yang menjadi pokok pembahasan makalah ini, yaitu:
1.      Pernafasan pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus ?
2.      Sirkulasi pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus ?
3.      Traktus digestivus pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus ?
4.      Kelenjar endokrin pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus ?
5.      Urat syaraf pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus ?
6.      Imnologi pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus ?

C.       Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini meliputi:
1.      Untuk mengetahui pernafasan pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus.
2.      Untuk mengetahui sirkulasi pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus.
3.      Untuk mengetahui traktus digestivus pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus.
4.      Untuk mengetahui kelenjar endokrin pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus.
5.      Untuk mengetahui urat syaraf pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus.
6.      Untuk mengetahui imnologi pada perkembangan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke esktra uterus.

D.       Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah , kami  metode kajian pustaka (library researh) dan browsing dari media internet.


BAB II
PEMBAHASAN

Neonatus adalah masa kehidupan pertama diluar rahim sampai dengan  usia 28 hari dimana terjadi perubahan yang sangat besar  dari kehidupan di dalam rahim . Pada saat ini terjadi pematangan hampir pada semua sistem.
Pertumbuhan dan perkembangan janin
Selama 8 minggu pertama , terminology embrio digunakan terhadap perkembangan organisme oleh karena pada masa ini semua organ besar sedang dibentuk. Setelah 8 minggu , terminology janin digunakan oleh karena semua organ besar sudah dibentuk dan telah masuk ke dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan lanjut. Janin dengan berat 500 – 100 gram ( 22 – 23 minggu ) disebut immature. Dari minggu 2 – 36 disebut preterm. Dan janin aterm adalah bila usia kehamilan lebih dari 37 minggu.
v  Kehamilan 8 minggu
ü  Panjang 2,1 – 2,5 cm
ü  Berat 1 gram
ü  Bagian kepala lebih dari setengah tubuh janin
ü  Dapat dikenali lobus hepar
ü  Ginjal mulai terbentuk
ü  Sel darah merah terdapat pada yolk sac dan hepar
v  Kehamilan 12 minggu
ü  Panjang 7 – 9 cm
ü  Berat 12 – 15 gram
ü  Jari – jari memiliki kuku
ü  Genitalia eksterna sudah dapat dibedakan antara laki –laki dan perempuan
ü  Volume cairan amnion 30 ml
ü  Peristaltic usus sudah terjadi dan memiliki kemampuan menyerap glukosa
v  Kehamilan 16 minggu
ü  Panjang 14 – 17 cm
ü  Berat 100 gram
ü  Terdapat HbF
ü  Pembentukan HbA mulai terjadi

v  Kehamilan 20 minggu
ü  Berat 300 gram
ü  Detik jantung dapat terdengar dengan menggunakan stetoskop DeLee
ü  Terasa gerakan janin
ü  Tinggi fundus uteri sekitar umbilicus
v  Kehamilan 24 minggu
ü  Berat 600 gram
ü  Timbunan lemak mulai terjadi
ü  Viabilitas mungkin dapat tercapai meski amat jarang terjadi
v  Kehamilan 28 minggu
ü Berat 1050 gram panjang 37 cm
ü Gerak pernafasan mulai terlihat ; surfactan paru masih sangat rendah
v  Kehamilan 32 minggu
ü  Berat 1700 gram ; panjang 42 cm
ü  Persalinan pada periode ini 5 dan 6 neonatus dapat bertahan hidup
v  Kehamilan 36 minggu
ü  berat 2500 gram ; panjang 47 cm
ü  gambara kulit keriput lenyap
ü  kemungkinan hidup besar
v  kehamilan 40 minggu
ü  berat 3200 – 3500 gram ; panjang 50 cm
ü  diameter biparietal 9,5 cm
Pertumbuhan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke ekstra uterus meliputi :
A.        Pernapasan

                    Janin dalam kandungan telah mengadakan gerakan-gerakan pernapasan, yang dipantau dengan ultrasonografi, akan tetapi likuonamnii tidak sampai masuk ke dalam alveoli paru-paru. Pusat pernapasan ini dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen dan karbondioksida di dalam tubuh janin itu. Apabila saturitas oksigen meningkat hingga melebihi 50% maka terjadi apnoe, tidak tergantung pada konsentrasi karbondioksida. Bila saturasi oksigen menurun, maka pusat pernapasan menjadi sensitif terhadap rangsangan karbondioksida. Pusat itu menjadi lebih sensitif bila kadar oksigen turun dan saturasi oksigen mencapai 25%. Keadaan ini dipengaruhi oleh sirkulasi utero-plasenter (pengaliran darah antara uterus dan plasenta).

Apabila terdapat gangguan pada sirkulasi utero plasenter sehingga saturasi oksigen lebih menurun, misalnya pada kontraksi uterus yang tidak sempurna, eklampsia,dan sebagainya maka terdapatlah gangguan-gangguan dalam keseimbangan asam dan basa pada janin tersebut, dengan akibat dapat melumpuhkan pusat pernapasan janin. Pada permukaan paru-paru yang telah matur ditemukan lipoprotein yang berfungsi untuk mengurangi tahanan pada permukaan alveoli dan memudahkan paru-paru berkembang pada penarikan nafas pertama oleh janin. Pengembangan paru-paru disebabkan oleh adanya tekanan negatif di dalam dada lebih kurang 40 cm air- karena tekanan paru-paru waktu lahir sewaktu bayi menarik nafas pertama kali. Adanya lipoprotein tersebut di atas, khususnya kadar lesitin yang tinggi, mencerminkan paru-paru itu telah matur. Lesitin adalah bagian utama dari 2 lapisan di permukaan alveoli yang telah matur itu dan terbentuk melalui biosintesis.

Pada waktu partus pervaginam, khususnya pada waktu badan melalui jalan lahir, paru-paru seakan-akan tertekan dan diperas, sehingga cairan-cairan yang mungkin ada di jalan pernapasan dikeluarkan secara fisiologik dan mengurangi adanya bagian-bagian paru-paru yang tidak berfungsi segera oleh karena tersumbat. Yang diperlukan pada keadaan bayi baru lahir tanpa atau dengan asfiksia livide ialah membersihkan segera jalan nafas dan memberikan pada bayi tersebut oksigen untuk meningkatkan saturasi oksigen.

Hal ini penting dipahami oleh setiap penolong persalinan. Ketika partus, uterus berkontraksi, dalam keadaan ini darah di dalam sirkulasi utero plasenter seolah-olah diperas ke dalam vena umbilikalis dan sirkulasi janin, sehingga jantung janin terutama serambi kanan berdilatasi. Akibatnya, apabila diperhatikan bunyi jantung janin segera setelah kontraksi uterus hilang, akan terdengar melambat. Keadaan ini fisiologik, bukan patologik, dan dikenal sebagai refleks Marey. Ada yang mengemukakan bahwa timbulnya bradikardia pada his disebabkan oleh adanya asfiksia tali pusat dan meningkatnya vena kava inferior pada janin. Hon mempelajari bradikardia pada janin sewaktu ada his dengan fetal heart rate meter. Ia menemukan denyutan 140 per menit dapat menurun sampai 110 – 120 pada multipara, sedangkan pada nullipara kadang-kadang denyutan dapat menurun sampai 60 – 70 per menit, bradikardia ini terjadi segera pada permulaan his dan menghilang beberapa detik sesudah his berhenti.

Hon dan kawan-kawannya mengemukakan bahwa bradikardia tersebut di atas tidak disebabkan oleh hipoksia janin, akan tetapi karena tekanan terhadap kepala janin oleh jalan lahir pada waktu ada his. Gejala ini biasanya ditemukan pada pembukaan 4 – 8 cm dan bila pada kepala bayi juga diadakan penekanan seperti pada waktu ada his. 3 Untuk klinik penting diperhatikan frekuensi denyutan jantung ini untuk mengetahui apakah ada gawat janin. Denyutan jantung beberapa detik sesudah his sebanyak 100 per menit atau kurang menunjukkan akan adanya gawat janin.

Dalam keadaan normal frekuensi denyut jantung janin berkisar antara 120 – 140 denyutan per menit. Ketika partus denyut jantung ini sebaiknya didengar satu menit setelah his terakhir. Cara menghitung bunyi jantung janin adalah sebagai berikut: kita hitung denyut jantung dalam 5 detik pertama, kemudian 5 detik ketiga, kelima, ketujuh dan seterusnya sampai mencapai satu menit.

Dengan cara ini dapat diperoleh kesan apakah denyut jantung janin tersebut teratur atau tidak. Tiap menit mempunyai jumlah tertentu. Jika jumlah permenit berbeda lebih dari 8, maka denyutan jantung itu umumnya tidak teratur jika jumlah denyutan jantung lebih dari 160 per menit, disebut ada takikardia : sedangkan jika kurang dari 120 menit, disebut ada bradikardia. Dengan mengadakan pencatatan denyut jantung janin yang dikaitkan dengan pencatatan his, dapat diramalkan ada atau tidak adanya hipoksia pada janin. Takikardia saja kadang-kadang dapat ditemukan pada ibu yang menderita panas. Dewasa ini pemantauan janin dilaksanakan dengan alat kardiotokograf.

B.     Sirkulasi

Sirkulasi bayi terdiri dari 3 fase , yaitu :
1.      Fase intrauterine, dimana janin sangat bergantung pada plasenta.
2.      Fase transisi , yang dimulai segera setelah lahir dan tangisan pertama.
3.      Fase dewasa, yang umumnya berlangsung secara legkap pada bulan pertama kehidupan.
Perubahan mendadak dari kehidupan inteuterin ke ekstrauterin memerlukan penyesuaian sirkulasi neonates berupa :
ü  Pengalihan aliran darah dari paru.
ü  Penutupan ductus  arteriosus bottali dan foramen ovale
ü  Obliterasi ductus venosus arantii dan vasa umbilikalis

        Sirkulasi bayi mulai dari fase inrauterin, fase transisi dan fase dewasa

Mula-mula darah yang kaya oksigen dan nutrisi yang berasal dari plasenta, melalui vena umbikalis, masuk ke dalam tubuh janin. Sebagian besar darah tersebut melalui duktus venosus arantii akan mengalir ke vena kava inferior pula. Di dalam atrium dekstra sebagian besar darah ini akan mengalir secara fisiologik ke atrium sinistra, melalui foramen yang terletak diantara atrium dekstra dan 4 atrium sinista.

Dari atrium sinistra selanjutnya darah ini mengalir ke ventrikel kiri yang kemudian dipompakan ke aorta. Hanya sebagian kecil dari darah atrium kanan mengatur ke ventrikel kanan bersama-sama dan darah yang berasal dari paru-paru yang belum berkembang, sebagian besar darah dari ventrikel kanan ini, yang seyogyanya megnalir melalui arteria pulmoralis darah di aorta akan mengalir ke seluruh tubuh untuk memberi nutrisi dan oksigenasi pada sel-sel tubuh darah dari sel-sel tubuh yang miskin oksigen serta penuh dengan sisa-sisa pembakaran dan sebagainya akan dialirkan ke plasenta melalui 2 arteria umbilikalis.

Seterusnya diteruskan ke peredaran darah di koteledon dan jonjot-jonjot dan kembali melalui vena umbilikalis ke janin. Demikian seterusnya sirkulasi janin ini berlangsung ketika janin berada di dalam uterus. Ketika janin dilahirkan, segera bayi mengisap udara dan menangis kuat. Dengan dengan demikian, paru-parunya akan berkembang, tekanan dalam paru-paru mengecil dan seolah-olah darah terisap ke dalam paru-paru. Dengan demikian, duktus botalli tidak berfungsi lagi.

Demikian pula, karena tekanan dalam atrium kiri meningkat, foramen ovale akan tertutup, sehingga foramen tersebut selanjutnya tidak berfungsi lagi. Akan dipotong dan diikatnya tali pusat, arteri umbilikalis dan duktus vengsus arantii akan mengalami obiliterasi dengan demikian, setelah bayi lahir maka kebutuhan oksigen dipenuhi oleh udara yang diisap ke paru-paru dan kebutuhan nutrisi dipenuhi oleh makanan yang dicerna sistem pencernaan sendiri. Dewasa ini, daspat dipantau peredaran darah janin dan denyutan-denyutan di tali pusat.

C.     Traktus Digestivus

Pada kehamilan enam bulan, alat pencernaan ini telah cukup terbentuk dan janin telah dapat menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga dengan demikian janin membantu pula dalam perputaran air ketuban. Absorbsi air ketuban terjadi melalui mukosa seluruh traktus digestivus. Bahwa janin menelan air ketuban, dapat dibuktikan dengan adanya lanugo, verniks kaseosa 5 dimekonium setelah bayi dilahirkan.

Warna hijau tua mekonium disebabkan oleh pemecahan bilirubin. Marconium dapat keluar per anum bila timbul hipoksia berat, sehingga usus-usus mengadakan peristaltik, sedangkan muskulus sfingter ani dalam keadaan lumpuh. Dengan demikian mekonium mencampuri likuor amnii, yang kemudian berwarna kehijau-hijauan. Juga bila ada tekanan di dalam uterus yang meningkat hingga menekan isi abdomen janin, umpamanya pada janin dalam letak sungsang, mekonilum secara mekanik keluar dari anus. Juga obat yang meningkatkan mekanisme peristaltik pada ibu, dapat pula melalui plasenta dan memberi akibat yang sama pada janin.

 Pada umumnya janin menelan rata-rata 450 ml air ketuban setiap harinya. Hepar janin pada kehamilan empat bulan mempunyai peranan dalam hemopoesis. Pula dalam metabolisme hidrat arang mulai berperan. Glikogen mulai disimpan dalam hati, yang pada akhir triwulan makin meningkat. Sesudah bayi dilahirkan, simpanan glikogen ini cepat terpakai. Vitamin A dan D disimpan juga dalam hati.

Bahwa hepar janin masih imatur dalam fungsinya selama dalam kandungan dan pula sesudah dilahirkan, dinyatakan oleh ketidakmampuannya untuk meniadakan bekas penghancuran darah dari peredaran darah, plasenta dan hati ibu menyelesaikan ini. Akan tetapi, sebagian kecil bilirubin diolah oleh hepar janin dan disalurkan ke usus melalui saluran empedu dimana dialami oksidasi dijadikan biliverdin. Pigmen inilah yang membuat warna mekonium kehijau-hijauan.

Pada umumnya plasenta dapat meniadakan dengan cepat bekas-bekas metabolisme bilirubin. Akan tetapi pada keadaan dimana hemadisit darah terlalu cepat, umpamanya dalam hal eritroblastosis fetalis, mekanisme di plasenta tidak dapat mengetahuinya.

 Akan timbul hiperbilirubinemia dengan pigmen yang akibatnya dapat ditemukan di dalam air ketuban. Adanya pigmen tersebut dalam likuor amnii dipakai untuk membuat diagnosis dan mengadakan penilaian mengenai kehamilan demikian itu imaturitas hepar yang menyangkut fungsinya dalam sistem enzim ialah mengenai kekurangan enzim glukorunil transferase, yang terjadi hingga dalam masa neonatus dan dalam waktu yang berbeda-beda.

Terutama ini terjadi pada bayi prematur yang tidak mudah meniadakan hasil 6 pengolahan hemoglobin melalui heparnya. Timbulnya ikterus neonatorum dalam hal ini agaknya disebabkan oleh hal tersebut di atas. Pankreas telah mulai berfungsi meskipun amat terbatas. Insulin telah dapat ditemukan pada kehamilan 13 minggu dan produksinya meningkat dengan tuanya kehamilan. Pada ibu dengan diabetes mellitus tampak adanya hipertrofi sel-sel longerhons. Akan tetapi, bukti bahwa insulin janin membantu ibunya dalam hal diabetes melitus belum ada.
D.        Kelenjar Endokrin

                 Sistem endokrin terdiri dari beberapa kelenjar antara lain :
1. Hipofisis interior
2. Neuro hipofisis
3. Hipofisis intermedia janin
4. Tiroid
5. Paratiroid
6. Kelenjar adrenal
7. Gonad

A.     Sistem Endokrin Intra Uterin

                 Kelenjar –kelenjar endokrin pada intra uterin belum bisa berfungsi
a secara maksimal karena pembentukan belum sempurna dan masih mendapatkan bantuan dari plasenta dan kelenjar endokrin ibunya.

                  Pembentukan kelenjar-kelenjar endokrin dimulai dari trimester I.  Kelenjar-kelenjar endokrin pada ekstra uterin sudah bisa berfungsi secara maksimal karena pembentukannya juga sudah muali sempurna jadi neonatus sudah tidak mendapatkan bantuan dari plasenta dan kelenjar endokrin ibunya.






Kelenjar-Kelenjar Endokrin

1.   Hipofisis Anterior

           Mulchahey dan kawan-kawan (1987), dalam suatu tinjauan yang bagus sekali tentang ontogenesis fungsi dan regulasi kelenjar hipofisis janin, mengetengahkan suatu pandangan yang menarik dan patut diacungi jempol. Pertama, mereka mengabaikan validitas konsep bahwa pengendalian sekresi hipofisis anterior janin tergantung pada pematangan system saraf pusat.

            Kedua, mereka menyebutkan bahwa sistem endokrin janin berfungsi selama beberpa waktu sebelum “sistem saraf pusat melengkapi sinaptogenesisnya dan sistem-sistem integrative lainnya telah mencapai status maturitas, sehingga mampu melaksanakan banyak tugas yang berkaitan dengan homeostasis.”

           Ketiga, mereka melanjutkan dengan mengusulkan bahwa sistem endokrin janin tidak perlu menyerupai sistem endokrin dewasa, tetapi dapat merupakan satu dari sistem homeostasik pertama kali yang dikembangkan.

           Akhirnya, hipofisis anterior janin berdiferensiasi menjadi lima tipe sel, yang mensekresi enam hormon protein:

1. Laktotrop memproduksi prolaktin (PRL)
2. Somatotrop, memproduksi hormon pertumbuhan (GH)
3. Kortikotrop, memproduksi kortikotropin (ACTH)
4. Tirotrop, memproduksi thyroid-stimulating horomone (TSH)
5. Gonadotrop, memproduksi luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH).

           ACTH pertama kali dideteksi pada hipofisis janin pada minggu ke-7 kehamilan dan sebelum akhir minggu ke-17, hipofisis janin mampu mensintesis dan menyimpan semua hormon hipofisis. GH, ACTH dan LH telah diidentifikasi pada hipofisis janin manusia pada kehamilan 13 minggu. Lebih jauh, hipofisis janin responsif terhadap hormon-hormon hipofisiotropik dan mampu mensekresi hormon-hormon ini sejak kehamilan dini.

           Kadar hormon pertumbuhan hipofisis agak tinggi pada darah tali pusat, meskipun peranan untuk hormon tersebut dalam pertumbuhan dan perkembangan janin tidak jelas. Dekapitasi in utero tidak banyak mengganggu pertumbuhan sisa lainnya pada janin binatang, seperti yang diperlihatkan oleh Bearn (1967) dan lainnya. Lagipula, janin-janin anensefalik manusia dengan jaringan hipofisis kecil tidak banyak berbeda dari janin-janin normal.
 
           Hipofisis janin menghasilkan dan melepaskan endorfin-β dengan cara yang berbeda dari kadar plasma ibunya. Lagipula, kadar endorfin-β dan lipotrofin-β darah tali pusat ditemukan menurun sesuai dengan menurunnya pH janin, tetapi berkorelasi dengan cara yang positif dengan PCO2 janin.

2.   Neurohipofisis

           Neurohipofisis janin berkembang dengan baik pada kehamilan 10 sampai 12 minggu dan sudah dapat ditemukan oksitosin dan arginin vasopresin (AVP). Di samping itu, hormon vasotosin (AVT) terdapat di hipofisis janin dan kelenjar pineal. AVT hanya terdapat pada kehidupan janin manusia. Pada binatang-binatang dewasa, infus AVT meningkatkan tidur dan merangsang pelepasan prolaktin.

           Ada kemungkinan oksitosin dan AVP berfungsi pada janin untuk menghemat air tetapi aksi-kasi ini sebagian besar pada tingkat paru dan plasenta dibandingkan pada tingkat ginjal. Pembentukan PGE2 di dalam ginjal janin dapat melemahkan kerja AVP di organ ini.


           Beberapa peneliti telah menemukan bahwa kadar AVP di plasma tali pusat meningkat secara menyolok dibandingkan dengan kadar yang ditemukan dalam plasma ibu. Di samping itu, AVP dalam darah tali pusat dan darah janin tampak meninggi pada stress janin.

3.   Hipofisis Intermedia Janin

           Ada lobus intermedie hipofisis yang berkembang baik pada janin manusia. Sel-sel dalam struktur ini mulai menghilang sebelum cukup bulan dan tidak ada lagi pada hipofisis dewasa. Produk sekresi utaria dari sel-sel lobus intermedia adalah hormon stimulasi α-melanosit (α-MSH) dan β-endorfin. Kadar α-MSH janin menurun secara progesif sesuai dengan umur kehamilan.

4.   Tiroid

           Sistem hipofisis-tiroid mampu berfungsi pada akhir tri trimester pertama (lihat tabel). Tetapi sampai tengah-tengah kehamilan, sekresi thyroid-stimulating hormone dan hormon tiroid masih rendah. Ada peningkatan yang lumayan besar setelah waktu ini.

           Mungkin sangat sedikit tirotropin melintasi plasenta dari ibu ke janin sementara stimulator-stimulator. Tiroid berjangka panjang LATS dan LATS-protektor demikian juga, bila terdapat dalam konsentrasi tinggi pada ibunya. Juga, antibody-antibaodi IgG ibu terhadap thyroid-stimulating hormon (TSH) juga dapat melintasi plasenta sehingga mengakibatkan kadar TSH tinggi palsu pada neonatus.

Fase-fase pematangan tiroid pada janin dan neonatus manusia
v  Embriogenesis sumbu hipofisis-tiroid 2 sampai 12 minggu
v  Pematangan hypothalamus 10 sampai 35 minggu
v  Perkembangan pengendalian neuroendorin 20 minggu sampai 4 minggu setelah lahir
v   Pematangan system monodeyodinasi perifer 30 monggu sampai 4 minggu setelah lahir

           Plasenta manusia secara aktif mengkonsentrasikan yodida pada sisi janin dan sepanjng trimester kedua dan ketiga kehamilan, tiroid janin mengkonsentrasikan yodida lebih kuat daripada tiroid ibu. Karena itu, pemberian raip-yodida atau jumlah yodida yang lebih banyak dari biasa, jelas berbahaya bagi janin.

           Hormon tiroid yang berasal dari ibu melintasi plasenta pada tingkat yang sangat terbatas dengan triyodotironin lebih mudah lewat darpada tiroksin. Ada aksi terbatas hormon tiroid selama kehidupan janin. Janin manusia yang atiroid tumbuh secara normal pada waktu lahir. Hanya jaringan-jaringan tertentu yang mungkin responsive terhadap hormon tiroid, yaitu otak dan paru.


5.   Kelenjar Paratiroid

           Ada bukti yang baik bahwa paratiroid menguraikan parathormon pada akhir trimester pertama dan kelenjar tersebut tampaknya memberi respon in utero terhadap stimulasi pengaturan. Neonatus dari ibu-ibu dengan hiperparatiroidisme, misalnya dapat menderita tetani hipokalsemik.

            Kadar kalsium plasma dalam janin, 11 sampai 12 mg per dL, dipertahankan oleh transpor aktif dari darah ibu. Kadar paratiroid dalam darah janin relatif rendah dan kadar kalsitonin tinggi. Pada biri-biri, paratiroidektomi janin menyebabkan turunnya konsentrasi kalsium plasma janin. Nefrektomi juga menyebabkan turunnya kalsium dan 1α-hidroksilasi dari 25-OH-kolekalsiferol terjadi di ginjal janin.

6.   Kelenjar Adrenal

           Adrenal janin manusia disbanding dengan ukuran badan totalnya jauh lebih besar daripada perbandingan ukuran tersebut pada orang dewasa, seluruh pembesaran tersebut merupakan bagian dalamnya atau yang disebut zone janin korteks adrenal. Zone janin yang normalnya mengalami hipertrofi tersebut, mengalami involusio dengan cepat setelah lahir. Zone janin tersebut tidak ada dalam kejadian yang jarang, dimana hipofisis janin secara kongenital tidak ada.

           Adrenal janin juga mensintesis aldosteron. Pada satu penelitian, kadar aldosteron di plasma tali pusat mendekati cukup bulan, melebihi kadarnya di plasma ibu, seperti juga rennin dan substrat rennin. Tubulus-tubulus ginjal bayi baru lahir dan barangkali juga janin tampak relatif tidak sensitif terhadap aldosteron.


Perkembangan Adrenal Janin Awal

           Pada awal kehidupan embrional, adrenal janin tersusun dari sel-sel yang mirip dengan sel-sel zona fetal korteks adrenal janin, sel-sel ini dengan cepat muncul dan berproliferasi sebelum waktu vaskularisasi hipofisis oleh hipotalamus sempurna. Hal ini memberi kesan bahwa perkembangan awal adrenal janin berada di bawah pengaruh-pengaruh trofik yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan pengaruh trofik pada orang dewasa.

            Kemungkinan, ACTH disekresi oleh hipofisis janin tanpa adanya factor corticotropin-releasing factor (CRF) atau ACTH (atau CRF) lain yang timbul dari suatu sumber selain hipofisis janin, misalnya dari ACTH (atau CRF) korionik yang disintesis oleh trofoblas. ACTH tidak menyebrangi plasenta. Tetapi ada kemungkinan lain, ini mencakup kemungkinan bahwa ada suatu agen selain ACTH yang meningkatkan replikasi sel-sel adrenal zona fetal.

           Korteks adrenal fetus normal terus menerus berkembang sepanjang kehamilan dan selama 5 sampai 6 minggu kehamilan terakhir, terjadi kenaikan cepat ukuran adrenal fetus manusia. Jelas bahwa laju pertumbuhan adrenal fetus dan sekresi steroid tidak dikendalikan oleh rangsang trofik tunggal (ACTH), tetapi lebih diatur oleh lebih dari satu jenis agen yang menunjang pertumbuhan.

7.    Gonad

           Siiteri dan Wilson (1974) mendemontrasikan sintesis testosteron oleh testis janin dari progesterone dan pregnenolon pada kehamilan 10 minggu. Lebih lanjut, Leinonen dan Jaffe ( 1985) menemukan bahwa sel-sel Leydig testis janin luput dari desensitisasi yang khas pada testis dewasa, yang diberi tantangan-tantangan hCG berulang.

            Fenomena dalam testis janin ini mungkin disebabkan oleh:
v  Tidak adanya reseptor estrogen di dalam testis janin
v  Stimulasi prolaktin pada reseptor-reseptor hCG/LH pada testis janin

           Karena itu, ada hubungan yang erat antara gambaran perkembangan sel-sel Leydig dalam testis janin dan kadar hCG, pembentukan testosteron testis dan kadar hCG, konsentrasi reseptor untuk kadar LH/hCG dan tidak adanya regulasi penurunan reseptor LH/hCG dan sekresi testosteron testikuler janin yang terus menerus pada waktu kadar hCG tinggi. Pembentukan estrogen di ovarium janin telah didemonstrasikan tetapi pembentukan estrogen di ovarium tidak diperlukan untuk perkembangan fenotip perempuan.


Plasenta Sebagai Organ Endokrin

           Perubahan-perubahan endokrin yang menyertai kehamilan manusia mungkin adalah yang paling unik dan paling mengherankan yang dicatat pada fisiologi atau patofisiologi mamalia. Kalau diteliti niali-nilai ini, jelas bahwa perubahan-perubahan endokrin pada kehamilan merupakan fenomena. Di samping peningkatan pembentukan hormon steroid seks dan mineralkortikoid ini, juga ada peningkatan menyolok kadar rennin, angiotensinogen dan angiotensin II plasma, bersamaan dengan produksi harian 1 g laktogen plasenta manusia (hPL) dan jumlah gonadotropin koroinik manusia (hCG) dalam jumlah banyak.


           Plasenta juga memproduksi adrenokortikotropin (ACTH) korionik dan produk-produk lain dari pro-opiomelanokortik, human korionik tirotropin (hCT) dan juga hypothalamic-like releasing dan inhibiting hormon, yaitu thyrotropin-releasing hormone (TRH), gonadotropin-releasing hormone (GnRH) atau luteinizing hormon-releasing hormone (LHRH), corticotropin-releasing factor (CRF) dan somatostatin serta inhibin dan berbagai macam protein yang unik untuk kehamilan (spesifik-kehamilan) atau proses-proses neoplastik.

Hormon-Hormon Protein Plasenta

1. Gonadotropin korionik
2. Adrenokortikotropin dan tirotropin korionik
3. Hormon-hormon hypothalamic like-releasing dari plasenta
4. Inhibin

B. Sistem Endokrin Ekstra Uterin

           Sistem endokrin pada neonatus ekstra uterin jelas berbeda daripada ketika berada dalam kandungan. Ketika janin berada dalam kandungan maka masih mendapatkan segala kebutuhannya dari ibu melalui plasenta meskipun dalam perkembangan di dalam kandungan mulai terbentuk organ-organ bagi aktivitas hidup.
            Namun, organ-organ tersebut, misalnya system endokrin masih belum sempurna sempurna untuk dapat hidup mandiri. Setelah janin lahir barulah system endokrin dapat bekerja sehingga bayi dapat hidup diluar rahim ibunya kerena hilangnya ketergantungan dari plasenta dan ibu.

Setelah lahir ada beberapa kelenjar yangmengalami daptasi agar mampu bekerja misalnya :

Kelenjar Tiroid

           Segera setelah lahir, kelenjar tiroid mngalami perubahan-perubahan besar funsi dan metabolisnya. Pendinginan atmosfer membangkitkan peningkatan mendadak dan jelas sekresi tirotropsin, yang selanjutnya menyebabkan peningkatan progresif kadar tiroksin serum maksimal 24-26 minggu setelah lahir. Ada peningkatan kadar tryiyodotironin serum yang terjadi hampir bersamaan.

Kelenjar Timus

Pada bayi baru lahir ukurannya masih sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gram atau sedikit ukurannya ertambah dan pada masa remaja beratnya meningkat 30-40 gram kemudian mengerut lagi.

E.      Urat Syaraf

v Sistem saraf dan neuronmuskular

Ini merupakan sistem yang paling awal dimulai menunjukkan aktifitasnya , yaitu sejak usia 88 – 12 minggu , berupa kontraksi otot yang timbul jika terjadi stimulasi lokal . sejak usia 9 minggu , janin mampu mengadakan fleksi alat – alat gerak, dengan refleks – refleks dasar yang sangat sederhana ( fleksi satu sisi diikuti juga fleksi sisi lainnya). Terjadi juga berbagai gerakan spontan ( spontaneous movement). Namun ukuran janin pada akhir trimester pertama ini masih kecil , sehingga gerakan –gerakan janin belum dapat dirasakan oleh ibunya. Sejak usia 13 – 14 minggu ( awal trimester kedua ) gerakan –gerakan janin baru mulai dapat dirasakan ibunya.
Terdapat hubungan antara keadaan emosional ibu dengan tingkat aktifitas janin( misalnya pada keadaan ibu marah atau gembira , gerak janin lebih sering dan kuat , sebaliknya ketika ibu sedih atau depresi atau ketakutan, gerak janin lebih sedikit dan lemah ).
Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh variasi kadar hormon adrenalin ibu yang juga ditransfer ke janin melalui sirkulasi plasenta.

v Sistem saraf sensori khusus / indera

Mata yang terdiri dari lengkung bakal lensa dan bakal bola mata pada awalnya menghadap ke lateral , kemudian berubah letaknya ke permukaan ventral wajah . saraf penglihatan (nervus optikus ) merupakan derivate ectoderm, memasuki bola mata dari bagian posterior.

         Telinga yang berasal dari vesikel otik bergeser ke sisi lateral kepala , menempati tempatnya yang tetap . telinga luar memperoleh inervasi sensorik dari nervus facialis , telinga dalam ( organ pendengaran dan keseimbangan ) memperoleh inervasi dari derivate ectoderm  nervus vestibulokoklearis.

         Hidung yang berasal dari bakal olfaktorik merupakan penebalan ectoderm permukaan di daerah wajah , memperoleh inervasi sensorik dari  nervus olfaktorius.
          
         Lidah berasal dari lengkung faring dari endoderm , kemudian memperoleh inervasi sensorik dari cabang nervus trigeminus dan nervus facialis , serta inervasi motorik dari nervus hipoglosus dan nervus laryngeus superior.
F.      Imunologi
 adalah cabang yang luas dari ilmu biomedis yang mencakup studi tentang semua aspek dari sistem kekebalan tubuh dalam semua organisme.
Pada awal kehamilan kapasitas janin untuk menghasilkan antibody terhadap antigen maternal atau invaksi bakteri sangat buruk. Respon imunologi pada janin diperkirakan mulai terjadi sejak minggu ke – 20 .
Respon janin dibantu dengan ttransfer antibody maternal dalam  bentuk perlindungan pasif yang menetap sampai beberapa saat pasca persalinan .
Terdapat 3 jenis leukosit yang berada dalam darah :
a.       Granulosit : granulosit eosinofiik, basofilik dan neutrofilik
b.      Monosit : T- cells ( derivate dari tymus ) dan B-cells ( derivate dari “ Bone         Marrow”)
c.                   Limfosit : serum globulin yang terdiri dari IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE

Pada neonatus , limpa janin mulai menghasikan IgG dan IgM . Pembentukan IgG semakin meningkat 3 – 4 minggu pasca persalinan .
Perbandingan antara IgG dan IgM penting untuk menentukan ada atau tidaknya nfeksi intrauterine . Kadar serum IgG janin aterm sama dengan kadar maternal oleh karena dapat melewati plasenta.
IgG merupakan 90 % dari antibody serum janin yang berasal dari ibu.  IgM terutama berasal dari janin sehingga dapat digunakan untuk menentukan adanya infeksi intrauterine .












BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pertumbuhan dan persiapan kehidupan neonatus dari intra ke ekstra uterus meliputi :
ü  Pernafasan
ü  Sirkulasi
ü  Traktus digestivus
ü  Kelenjar endokrin
ü  Urat syaraf
ü  Imunologi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar